Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum.*

Foto: Redaksi

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang Giri Sadewa merupakan anak muda yang menjadikan media sosial sebagai media komunikasi dengan publik. Ia mem-branding atau menciptakan karakter sebagai tokoh muda yang fokus pada isu-isu pendidikan.

Kalau kita masuk ke salah akun media sosialnya, kita akan melihat salah satu konten yang menunjukkan bagaimana Danang Giri Sadewa membuka isu-isu yang ada di balik dunia pendidikan, seperti berapa harga almet (jas almamater) mahasiswa fakultas kedokteran. Siapa pun tahu bahwa untuk mendapatkan jas almameter fakultas kedokteran melalui jalur mandiri—selain seleksi—juga perlu ratusan juta.

Untuk membuktikan kebenaran tersebut, Danang Giri Sadewa mewawancarai mahasiswa fakultas kedokteran dan mendengarkan bahwa memang benar harga yang harus dibayar untuk masuk fakultas ini bisa dipakai untuk membeli sebuah mobil. Ini merupakan isu yang menarik karena selama ini tidak banyak orang membicarakannya. Danang Giri Sadewa mampu membongkar isu ini sebagai konsumsi publik.

Melalui konten ini, Danang Giri Sadewa tidak hanya sekadar memberi tahu berapa harga jas almameter mahasiswa fakultas kedokteran, tetapi juga mengkritik betapa mahalnya harga untuk menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan betapa mudahnya itu bagi orang-orang yang punya uang. Kondisi itu akan ada ketimpangan bagi orang-orang yang tidak mampu menyediakan uang sebanyak itu. Isu-isu pendidikan pun bergulir di media sosial dan para pengikut Danang Giri Sadewa berkomentar sesuai dengan pandangan dan perspektif masing-masing.

Bagi anak-anak muda zaman sekarang, menjadi Danang Giri Sadewa adalah impian. Sebuah cita-cita. Mereka ingin tampil di depan publik, melahirkan konten yang menarik, tapi mampu mengkritik atau membangun sebuah gagasan baru yang baik. Hari ini impian dan cita-cita menjadi Danang Giri Sadewa sudah dicatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Namanya kreator konten.

Kreator konten adalah ‘orang yang membuat konten berupa teks, audio, atau video dalam bentuk cetak atau digital untuk memikat, mendidik, atau menghibur audiens sasarannya’. Istilah ini merupakan kosakata baru dalam bahasa Indonesia yang dicatat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia sebagai salah satu profesi di Indonesia.

Meskipun sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari istilah content creator, banyak orang tua yang tidak tahu bahwa kreator konten adalah sebuah profesi. Profesi yang mereka ketahui hanya guru, dosen, polisi, insinyur, dokter, tentara, PNS, perawat, dan bidan. Bukan karena tidak populer, melainkan karena belum ada standar untuk menilai kreator konten sebagai sebuah profesi. Standar yang ingin didengar orang tua bermula dari pertanyaan, berapa gaji, bagaimana jam kerja, bagaimana jenjang karier, dan di mana kantor. Tak satu pun kriteria tersebut dimiliki oleh seorang kreator konten.

Seorang kreator konten tidak memiliki kantor, tetapi bisa menyulap kamar sendiri sebagai sebuah kantor. Seorang kreator konten juga tidak akan memiliki jam kerja, tetapi pukul 10 malam bisa menjadi waktunya bekerja dan pukul 10 pagi menjadi waktunya untuk tidur. Seorang kreator konten tidak akan bisa dinilai kapan naik jabatan dan tidak memiliki nominal standar untuk gaji bulanan. Namun, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani, menyatakan bahwa pemerintah mendorong transformasi digital melalui sosok yang bekerja sebagai kreator konten digital ini.

Indonesia saat ini membutuhkan sembilan juta taleta baru dalam 15 tahun ke depan. Artinya, setiap tahun dibutuhkan 600 ribu talenta digital baru. Sayangnya, saat ini perguruan tinggi baru bisa meluluskan 100—200 ribu talenta digital setiap tahun. Cukup banyak ruang kosong yang harus diisi untuk mewujudkan transformasi digital di Indonesia.

Salah satu penyebab kosongnya talenta digital itu disebabkan oleh istilahnya yang masih baru. Belum banyak masyarakat yang akrab dengan kata talenta digital. Jika melihat definisi yang dihadirkan dalam KBBI, kita dapat memaknai bahwa talenta digital adalah ‘orang yang memiliki kemampuan spesial dalam bidang digital’. Untuk mewujudkan ini, tentu kata digital harus berkelindan dalam banyak hal. Dalam pendidikan, siswa sekolah harus mengenal yang namanya mata pelajaran digital yang akan diajarkan oleh guru yang khusus mengajarkan mata pelajaran ini.

Seperti ekonomi digital, kita bisa melahirkan istilah guru digital yang akan melahirkan talenta digital. Namun, pekerjaan yang akan dilirik nanti bukanlah karyawan digital, tetapi salah satunya adalah kreator konten. Kreator konten bisa mengisi 200—600 formasi yang diharapkan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo tadi. Mereka bisa secara khusus menggarap mata pelajaran apa pun menjadi konten digital yang baik, misalnya tips cepat belajar logaritma, tips cepat menguasai kosakata bahasa Korea, atau tips memulai bisnis dari rumah. Konten tersebut tentu dapat menghilangkan pandangan negatif banyak orang selama ini bahwa media sosial tidak selamanya tentang joged-joged saja.

Dibalik realitas profesi ini, ada satu hal yang patut diapreasi dari segi bahasa. Kosakata bahasa Indonesia bertambah dengan adanya istilah kreator konten. Meskipun belum meluas, istilah ini secara perlahan sudah menggeser istilah aslinya, content creator. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan istilah AI yang dibaca ‘e ai’, padahal kita memiliki kosakata yang juga tidak kalah bagusnya, yaitu KB atau ‘kecerdasan buatan’. Kita selalu butuh waktu untuk sosialisasi dalam menerima istilah baru.

Sebagai pemerhati bahasa, saya pun tertarik menelusuri apakah kosakata ini benar-benar sudah menjadi profesi? Ketika seseorang mengirimkan saya formulir kesediaan bergabung dengan salah satu merek ternama di bidang kecantikan, saya dikejutkan dengan salah satu isian yang berjudul profesi. Siapa sangka, aplikasi ini sudah sangat detail mencatat profesi yang ada di Indonesia. Salah satu profesi yang dicatat adalah kreator konten.

Melihat kehadiran kreator konten sebagai sebuah profesi, saya tertarik untuk menghitung semua profesi yang dicatatkan. Ada 104 profesi di Indonesia yang sudah mereka catat. Catatan statistik yang luar biasa. Selama ini kita hanya mengenal beberapa kosakata saja sebagai penanda profesi. Kini setidaknya terdapat 104 profesi yang tercatat. Secara berurutan, ada akuntan, anggota BPK, anggota DPD, anggota DPR-RI, anggota DPRD Kabupaten/Kota, anggota DPRD Provinsi, anggota kabinet/kementerian, anggota mahkamah konstitusi, apoteker, arsitek, badan hukum, biarawati, bidan, bupati, buruh harian lepas, buruh nelayan/perikanan, buruh peternakan, buruh tani/perkebunan, dokter, dosen, duta besar, gubernur, guru, ibu rumah tangga, imam masjid, industri, juru masak, karyawan BUMD, karyawan BUMN, karyawan honorer, karyawan swasta, kepala desa, kepolisian RI, konstruksi, konsultan, mekanik, nelayan, PNS, paraji, paranormal, pastor, pedagang, pelajar/mahasiswa, pelaut, pembantu rumah tangga, penata busana, penata rambut, penata rias, pendeta, peneliti, pengacara, notaris, akuntan, psikiater, selebriti, seniman, sopir, TNI/Polri, tabib, tentara nasional Indonesia (TNI),  tukang batu, tukang cukur, tukang gigi, pensiunan, penerjemah, penyiar radio, penyiar televisi, perancang busana, perangkat desa, perawat, petani/pekebun, peternak, pialang, pilot, presiden, profesional, promotor acara, tukang jahit, tukang kayu, tukang las/pandai besi, tukang listrik, tukang sol sepatu, ustaz/mubaligh, wakil bupati, wakil gubernur, wakil presiden, wakil walikota, wartawan, dan wiraswasta.

Kalau kita telusuri kosakata tersebut, ada profesi yang tidak tepat, yaitu konstruksi. Dalam KBBI, konstruksi adalah ‘susunan (model, tata letak) suatu bangunan (jembatan, rumah, dan sebagainya)’. Barangkali maksudnya adalah kontraktor atau pihak yang bertanggung jawab melaksanakan semua atau beberapa bagian pekerjaan konstruksi. Namun, kosakata lainnya menunjukkan betapa beragamnya profesi yang ada di Indonesia.

Berkaitan dengan kosakata kreator konten, kosakata ini merupakan istilah baru dalam bahasa Indonesia. Kosakata ini hadir sebagai sebuah profesi. Penggunaan kata ini sebagai profesi dapat dilihat dalam judul berita berikut.

(1) Febrian Paundra Alditama Fokus Menjadi Kreator Konten Game, Keisengan Berbuah Jutaan Subscribers

(2) Kreator Konten Dilaporkan ke Polisi Usai Parodikan FTV “Jasa Bikin Anak Keliling”

Meskipun sudah dipakai dalam pemberitaan, belum semua wartawan Indonesia menggunakan kosakata ini. Dari penelusuran di Google, para wartawan banyak yang salah kaprah dalam menggunakan kreator konten sebagai profesi. Lebih banyak yang memakai istilah konten kreator, padahal kreator konten dan konten kreator itu berbeda makna. Kreator konten merupakan orang yang memproduksi konten berupa teks atau video, sedangkan konten kreator adalah produksinya yang berupa teks atau video tersebut.

Barangkali, karena kosakata ini diserap dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, maknanya sering tumpang tindih dipahami pengguna bahasa Indonesia. Meskipun begitu, sekarang setidaknya kita sama-sama mengetahui bahwa profesi pada hari ini kian berkembang. Kita harus menerima bahwa ada sebuah profesi yang sangat berbeda standarnya dengan profesi kebanyakan. Profesi yang dimaksud adalah kreator konten.

Tulisan ini sudah dimuat di Scientia.id. Silakan lihat juga melalui 
https://bit.ly/scientia-kreatorkonten.

*Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Rendang sebagai Diplomasi Budaya

Artikel 13-01-2024 19:15 WIB

Ketika menikmati sarapan pagi dalam kegiatan Kongres Bahasa Indonesia XII pada 25”28 Oktober 2023, saya mendengar seseorang menceritakan pengalamannya dalam diplomasi budaya melalui kuliner. Salah satu kuliner yang dipilih sebagai diplomasi budaya adalah rendang. Rendang dipakai sebagai media...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas