Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Bukan Aktifitas, Melainkan Aktivitas

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum.*

Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Bentuk aktifitas dan aktivitas dapat dijadikan bahan pembicaraan yang menarik. Kedua bentuk ini selalu diperbincangkan dalam ranah pembelajaran bahasa Indonesia. Banyak yang keliru dalam menuliskan bentuk aktivitas menjadi aktifitas karena ada bentuk aktif dalam bahasa Indonesia sehingga bentuk turunan (yang dianggap benar) ialah aktifitas. Dalam proses pembentukan kata bahasa Indonesia, bentuk aktif dan aktivitas berasal dari proses yang berbeda.

Bentuk aktif berasal dari kata actief (bahasa Belanda) dan active (bahasa Inggris), sedangkan bentuk aktivitas berasal dari activiteit (bahasa Belanda) dan activity (bahasa Inggris). Ada dua proses penyerapan, yaitu -ief (bahasa Belanda) dan -ive (bahasa Inggris) menjadi -if dalam bahasa Indonesia sehingga muncul bentuk aktif dari actief-active; komunikatif dari communicatief-communicative; dan deskriptif dari descriptief- descriptive; -teit (bahasa Belanda) dan -ty (bahasa Inggris) menjadi -tas dalam bahasa Indonesia sehingga muncul bentuk aktivitas dari activiteit-activity, kreativitas dari creativiteit-creativity, dan produktivitas dari productiviteit-productivity. Dengan demikian, bentuk aktifitas tidak diturunkan dari bentuk aktif karena diserap dengan proses yang berbeda dari bahasa asing, baik dari bahasa Belanda maupun bahasa Inggris.

Mengapa kata tersebut harus ditelusuri dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris? Kedua bahasa tersebut menjadi bahasa sumber sejumlah unsur serapan dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menyerap bentuk dari bahasa Belanda karena pernah bersinggungan dengan bangsa tersebut, khususnya selama masa penjajahan. Sementara itu, bangsa Indonesia menyerap bentuk dari bahasa Inggris karena perkembangan teknologi saat ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Hal tersebut menyebabkan sejumlah kata dari bahasa Inggris diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Berpijak pada bentuk --ief dan --ive serta --teit dan -ty, kata aktivitas menjadi bentuk yang salah jika ditulis menjadi aktifitas. Begitu juga dengan bentuk kreativitas menjadi bentuk yang salah jika ditulis menjadi kreatifitas dan bentuk produktivitas menjadi bentuk yang salah jika ditulis menjadi produktifitas. Lalu, apa yang memicu kesalahan tersebut?

Pertama, bahasa Melayu sebagai sumber bahasa Indonesia tidak mengenal huruf /v/. Adib (2020) dalam "Sejarah Huruf V di Indonesia" menyatakan bahwa huruf /v/ baru muncul pada Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Poerwadarminta, yaitu pada awal kata, seperti variasi, ventilator, verifikasi, violet, virus, vital, dan vokal untuk menampung kata dari bahasa Eropa; serta pada tengah kata, seperti provinsi yang merujuk pada bahasa Belanda. Secara lengkap, kemunculan huruf /v/ pada Kamus Umum Bahasa Indonesia terjadi pada tahun 1966. Dengan demikian, masyarakat Indonesia pada awalnya memang tidak mengenal huruf /v/ sehingga dalam bentuk tulisan muncul huruf /f/ dan lahirlah bentuk aktifitas, kreatifitas, dan produktifitas.

Kedua, Google sebagai mesin pencari juga memberikan pengaruh dalam menerjemahkan bahasa Belanda dan juga bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Khusus untuk bentuk productiviteit dan productivity diterjemahkan menjadi produktifitas ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini menyebabkan pengguna bahasa Indonesia mempedomani hal tersebut tanpa mengecek bentuk baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga tanpa mengecek proses penulisan unsur serapan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Ketiga, di sejumlah blog yang ditulis oleh masyarakat Indonesia yang tidak berasal dari kalangan akademisi atau ahli bahasa, ditulis pandangan (tanpa teori) mengenai huruf /v/ yang dianggap mubazir dalam bahasa Indonesia karena bukan merupakan huruf sendiri. Dalam pandangan tersebut, justru diprovokasi agar dibuat kebijakan penghapusan huruf /v/ dalam bahasa Indonesia karena dianggap dapat merendahkan bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi pandangan yang keliru karena dapat menyebabkan kekacauan dalam proses penyerapan unsur asing.

Hal yang perlu disadari bersama-sama ialah bahasa Indonesia merupakan bahasa yang disepakati menjadi bahasa persatuan. Pada awal pembentukan bahasa Indonesia, seluruh kata dalam bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa sumber. Sementara itu, kata yang berasal dari bahasa asing, seperti bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Sanskerta, bahasa Tamil, dan juga bahasa Inggris juga dapat menjadi bahasa Indonesia jika kata tersebut tidak ada atau tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Penulisan unsur asing ke dalam bahasa Indonesia juga tidak semena-mena, tetapi harus mengikuti kaidah yang berlaku. Dalam kaidah bahasa Indonesia, proses penyerapan unsur asing memiliki keteraturan sehingga mudah dipahami. Hanya saja masyarakat Indonesia tidak suka membaca referensi terkait kaidah bahasa Indonesia, seperti KBBI dan PUEBI. Padahal, saat ini ada KBBI offline dan juga PUEBI dalam bentuk pdf yang bisa disimpan di handphone. Kapan saja bingung dengan penulisan kata baku dalam bahasa Indonesia, kita bisa membuka KBBI dalam hitungan detik. Bahkan, proses pembentukan kata tersebut juga dapat ditelusuri dengan membuka PUEBI atau berselancar di dunia maya. Kita hanya perlu membiasakan diri untuk cek, ricek, dan kroscek agar cerdas dalam berbahasa.

*Tulisan ini sudah dimuat di Scientia.id. Silakan lihat juga melalui https://scientia.id/2020/12/06/bukan-aktifitas-melainkan-aktivitas/ .

*Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, śBil, apa itu arti skenať.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas