Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Nama-nama Kue Lebaran

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum.*

Foto: Ria Febrina

Menjelang hari Lebaran, di swalayan, mini market, restoran, toko kue, dan juga di berbagai platform media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan Facebook, sudah terpajang kue-kue lebaran. Ada nastar, kastengel, cookieskurma coklat, sagu keju, thumbprint, dan lidah kucing. Aneka kue tersebut sangat populer hari ini sehingga ramai dijual menjelang Hari Raya Idulfitri.

Namun, tahukah teman-teman, meskipun sudah bertahun-tahun kue ini diwariskan, ternyata nama-namanya banyak yang belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dari kue-kue yang populer tersebut, baru kukis dan lidah kucing yang tercantum dalam kamus. Kukis dan lidah kucing merupakan nama-nama kue yang berasal dari bahasa Belanda. Kukis diserap dari dari koekje (Tribunnews, bit.ly/asalkata-kkukis), sedangkan lidah kucing diambil dari nama kattentongen yang bermakna ‘lidah kucing’ (kompas.com, bit.ly/asalkata-kukis). Kue tersebut dinamakan lidah kucing karena berbentuk panjang tipis seperti lidah kucing. Oleh sebab itu, dalam KBBI (2023), kukis didefinisikan sebagai ‘kue kering berbahan dasar tepung yang dipanggang, rasanya manis atau tawar dalam berbagai variasi’, sedangkan lidah kucing didefinisikan ‘kue kering yang berbentuk lidah kucing, dibuat dari terigu, gula pasir, putih telur’.

Kukis dan lidah kucing merupakan jenis kuenya. Di tangan para ahli, kue ini kemudian diciptakan dengan aneka rasa sehingga ada kukis coklat, kukis red velvet, kukis matcha, kukis karamel, lidah kucing coklat, lidah kucing red velvet, lidah kucing matcha, dan lidah kucing karamel. Rasa red velvet diciptakan dari bahan-bahan buttermilk, kakao, kopi, cuka, dan pewarna makanan merah. Red velvet bermakna sama dengan ‘kue merah’. Sementara itu, matcha diciptakan dari gilingan teh hijau yang diolah menjadi bubuk hingga halus menyerupai tepung, sedangkan karamel diciptakan dari cokelat yang diperoleh dari pemanasan gula tebu atau zat karbohidrat lain.

Mengenai nama-nama kue lain, seperti nama nastar yang dikenal sebagai ratu kue di hari Lebaran, ternyata belum ada dalam KBBI. Nastar merupakan kue yang berbentuk bulat dengan tambahan cengkih, kismis, atau keju di atasnya. Kue ini ternyata sudah dikenal sejak zaman kolonial. Nama nastar pun berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas dan tar. Kedua kata tersebut bergabung dan membentuk singkatan nastar (tempo.co, bit.ly/asalkata-nastar). Selain itu, kastengel juga berasal dari Belanda. Kata kastengel diserap dari kaasstengels yang berasal dari kaas yang bermakna ‘keju’ dan stengels yang bermakna ‘batangan’. Oleh sebab itulah, kita menikmati kastengel dalam bentuk kue batangan yang dihiasi keju panggang di atasnya.

Di samping kukis, nastar, dan kastengel yang berasal dari Belanda, juga ada thumbprint yang berasal dari Swedia (detik.com, bit.ly/asalkata-thumbprint). Kue sejenis kukis ini terbuat dari campuran mentega, gula, tepung terigu, dan vanila, serta dibentuk dengan menekan bagian tengah dan mengisinya dengan selai. Oleh sebab itulah, nama kue ini thumbprint karena pembuat kue harus memberi cap jempol di atas kue dengan menekan kue menggunakan jari tangan.

Sementara itu, kue lainnya, seperti kurma coklat yang merupakan kue yang diciptakan khusus dengan bahan dasar berupa kurma ini merupakan cara baru dalam menikmati buah kesukaan Nabi Muhammad, nabi yang dicintai umat muslim. Dalam Fruits of Warm Climates, kurma merupakan buah yang berasal dari Teluk Persia (Morton, 1087). Anjuran untuk berbuka puasa dengan kurma dan anjuran untuk mencintai buah kurma ini menyebabkan umat muslim menciptakan kue berbahan dasar kurma agar dapat dinikmati saat Lebaran atau setelahnya.

Karena kue-kue ini sangat populer di Indonesia, tentunya ada kemungkinan nama-nama kue tersebut akan diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kosakata dalam kamus memang akan terus berkembang seiring kosakata yang dipakai oleh masyarakat. Namun, untuk menyerap kosakata ini ke dalam KBBI, perlu mempedomani kaidah bahasa Indonesia, seperti melihat vokal dan konsonan yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Nama kue harus disesuaikan dengan bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa Indonesia.

Lalu, apakah kue-kue Lebaran hanya kukis, lidah kucing, nastar, kastengel, dan thumbprint? Tentu saja tidak. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan kue-kue tradisional. Indonesia yang terdiri atas beratus suku bangsa dengan tradisi dan kebudayaan yang khas menyebabkan setiap masyarakat mampu menciptakan dan mengkreasikan makanan sebagai penganan sehari-hari. Di antara penganan tersebut, ada yang kemudian menjadi kue-kue khas Lebaran.

Jika kita melihat KBBI Edisi IV (2008), KBBI Edisi V (2018), dan KBBI daring (2023), kita dapat mengenal aneka kue yang kini menjadi penganan khas dari Indonesia. Dari kue-kue tersebut, kita dapat mengenal Nusantara. Namun sayangnya, Badan Pengembangan dan Pembinaaan Bahasa tidak memberi label kepada semua kue tersebut, seperti berasal dari daerah mana.

Meskipun tanpa label asal daerah, kita dapat melihat kekayaan masakan Nusantara melalui penganan atau kue-kue khas Indonesia. Jika diurut mulai dari huruf a, ada andapita ‘kue yang dibuat dari tepung beras’ dan ape ‘nama kue sejenis apam kecil, dibuat dr tepung terigu’. Dalam KBBI, kue ini dijelaskan berasal dari Jakarta dengan adanya label Jk.

Dalam huruf b, ada beberapa kue yang tidak hanya dikreasikan oleh orang-orang pribumi, tetapi juga oleh orang-orang keturunan yang sudah menjadi warga Indonesia. Ada bakpao ‘penganan terbuat dari terigu yang diisi daging atau kacang hijau kemudian dikukus, berbentuk seperti tempurung tertelungkup’, bakpia ‘kue kering terbuat dari terigu dengan isi kacang hijau, berbentuk bundar agak pipih, bagian luarnya mudah remuk’; bandos ‘penganan, dibuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan gula dan kelapa parut’ (juga berasal dari Jakarta); belebat ‘penganan, dibuat dari campuran pisang dan ubi rebus yang dipotong-potong’; beludar ‘kue apam’; bikang ‘penganan, dibuat dari adonan tepung beras, santan, gula, dan vanili’; biskuit ‘penganan kering yang dibuat dari adonan tepung (terigu dan sebagainya) dan telur dengan atau tanpa diberi gula (biasanya dibuat di pabrik dan dijual dalam bentuk kalengan)’; dan bolu ‘penganan yang dibuat dari adonan tepung terigu, telur, gula pasir, dan sebagainya dan dipanggang’.

Dalam huruf c, ada calabikang ‘bikang’ yang dilabeli dengan label klasik. Selanjutnya dalam huruf d, ada dadar gulung ‘penganan dibuat dari tepung terigu dicampur telur, digoreng dalam bentuk yang tipis dan rata, diisi dengan kelapa parut dan gula, kemudian digulung’ dan donat ‘penganan, dibuat dari tepung terigu, mentega, gula, dan sebagainya berbentuk bundaran yang berlubang di tengahnya’.

Dalam huruf g, ada gandasturi ‘kue yang terbuat dari kacang hijau dan gula merah, dibentuk bundar pipih, dilapisi terigu kemudian digoreng’. Dalam KBBI daring, tidak dijelaskan kue ini berasal dari daerah mana, tetapi dalam KBBI Edisi IV dicantumkan keterangan bahwa kue ini berasal dari Jakarta. Selanjutnya, dalam huruf h, ada hunkue ‘penganan yang dibuat dari tepung kacang hijau’ dan dalam huruf j, ada jeradik ‘kue yang dibuat dari tepung’.

Dalam huruf k, ada karas ‘kue atau penganan yang dibuat dari tepung beras’; kasui ‘kue yang terbuat dari tepung dan gula yang dikukus’; klepon ‘penganan kukus yang terbuat dari tepung pulut yang dibulatkan, diisi gula merah, dan diguling-gulingkan pada kelapa parut’; kelombeng ‘kue yang dibuat dari tepung terigu yang adonannya sama dengan adonan untuk roti’; dan kembang loyang ‘bubur yang terbuat dari tepung beras bercampur gula’. Kue kembang loyang ini ditandai dengan label arkais yang artinya kue ini merupakan kue yang populer pada masa dahulu atau kue yang berciri kuno atau sudah tidak lazim dinikmati hari ini. Selain itu, juga ada kolemben ‘bolu yang lebih empuk dan enak’; ku ‘nama penganan; kue ku’; dan kuping gajah ‘kue kering, bentuk seperti kuping gajah’.

Dalam huruf k, jenis kue lainnya ada kue abuk ‘kue yang dibuat dari tepung aren’; kue ampo ‘penganan khas Tuban, terbuat dari tanah liat yang dipanggang, berbentuk gulungan’; kue ape ‘kue tradisional khas Betawi yang menyerupai serabi, dengan pinggiran yang lebar, tipis, dan renyah serta bagian tengah yang menonjol dan lembut, dibuat dari adonan terigu, tepung beras, dan gula pasir, biasanya diberi tambahan pasta pandan untuk memberi aroma wangi dan air perasan daun suji dan pandan sebagai pewarna alami’; kue bantal ‘kue yang dibuat dari terigu, ragi, telur, dan sebagainya yang digoreng, dapat ditaburi biji wijen atau gula halus, berbentuk menyerupai bantal, rasanya manis’; kue basah ‘kue yang dikukus (seperti kue lapis atau kue pisang); kue yang mengandung zat cair sehingga tidak tahan lama disimpan atau cepat bau (busuk)’; dan kue bawang ‘kue yang terbuat dari campuran tepung sagu atau tapioka, terigu, margarin, bawang putih, dan sebagainya, kemudian dipipihkan, dipotong kecil-kecil, dan digoreng’.

Selain itu, juga ada kue cangkir ‘kue berukuran kecil yang dibuat dari adonan terigu, telur, gula, dan sebagainya yang dicetak dalam cetakan atau kertas menyerupai cangkir dengan pinggiran berlipat-lipat, dapat diberikan berbagai pugasan, perasa, atau pewarna’; kue cincin ‘aliagrem’; kue cubit ‘kue basah berbentuk kecil dengan beragam rasa yang dibuat dari adonan tepung terigu, telur, gula dan lain-lain, diberi taburan meses atau keju parut, dan dimasak menggunakan cetakan khusus’; kue dadar ‘kue yang menyerupai telur dadar’; dan kue delapan jam ‘kue khas Palembang yang terbuat dari adonan 20 butir telur bebek, gula pasir, kental manis, ekstrak vanili dan mentega, kemudian dikukus selama delapan jam, biasanya disajikan saat Idulfitri’.

Kue lainnya ada kue kancing ‘kue kering yang dibuat dari terigu, telur, ekstrak vanila, maizena, gula, dan pewarna makanan, berbentuk menyerupai kancing dengan krim manis aneka warna yang mengeras di atasnya’ dan kue kering ‘kue yang dipanggang atau dimasukkan ke dalam ruang berudara panas; kue yang tidak mengandung zat cair sehingga dapat disimpan lama (seperti kue semprit atau biskuit)’. Kue kering ini sangat banyak jenisnya, seperti kue kering keju, kue kering kacang tanah, kue kering putri salju, kue kering coklat, dan kue kering mentega. Namun, dalam KBBI, nama kue tersebut secara umum disebut dengan kue kering.

Selain itu, dalam kue-kue yang berawalan huruf k, juga ada kue koci ‘kue yang dibuat dari tepung pulut, berisi kacang hijau yang dicampur gula merah’; kue ku ‘kue basah terbuat dari tepung beras pulut, dicetak dalam bentuk lonjong cembung, berisi tepung kacang hijau, biasanya berwarna merah, diberi alas daun pisang’; kue lapis ‘kue berlapis-lapis yang rasanya manis, terbuat dari tepung beras’; kue lumpur ‘kue basah berbentuk bulat pipih dengan tekstur kenyal dan licin, terbuat dari tepung terigu, telur, santan, dan kentang’; kue mangkuk ‘kue dari tepung beras atau terigu yang dimasak (dikukus) dalam mangkuk kecil’; kue sengkulun ‘kue basah yang dibuat dari tepung ketan campur gula merah dan ditaburi kelapa parut ketika akan dimakan’; kue tar ‘kue, biasanya dibuat dari adonan tepung terigu, gula, mentega telur, dan sebagainya, biasanya berbentuk bundar; serta kukis ‘kue kering berbahan dasar tepung yang dipanggang, rasanya manis atau tawar dalam berbagai variasi’.

Dalam huruf l, ada ladu ‘kue bulat-bulat yang dibuat dari tepung beras’ dan lidah kucing ‘kue kering yang berbentuk lidah kucing, dibuat dari terigu, gula pasir, putih telur’. Dalam huruf m, ada megan ‘penganan semacam kue dodol’ dan mendut ‘penganan, dibuat dari adonan tepung ketan dan santan, dibentuk bola-bola kecil, diisi dengan unti kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus’. Dalam huruf n, ada nagasari ‘penganan terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan pisang, dibungkus dengan daun pisang dan dikukus’.

Dalam huruf p, ada pancong ‘penganan yang dibuat dari terigu atau tepung ketan dicampuri gula dan telur’; pepe ‘kue manis yang dibuat dari adonan tepung yang berlapis-lapis dalam cetakan’ (yang dilabeli berasal dari Jakarta); pilus ‘penganan yang digoreng, dibuat dari tepung beras dan gula, berbentuk bulat panjang’; dan putu ‘penganan dibuat dari tepung beras ketan, di tengahnya diberi gula merah, dimakan dengan kelapa parut’.

Dalam huruf s, ada simping ‘kue berbentuk bulat pipih, dibuat dari adonan tepung beras yang dicampur dengan sedikit garam dan kencur’; sus ‘kue ringan berongga, biasanya diisi dengan vla, keju, dan sebagainya’; semprit ‘kue kering yang dibuat dari adonan tepung terigu, gula, telur, dan sebagainya yang dicetak dengan menekannya ke luar dari corong yang ujungnya berkembang-kembang kemudian dipanggang dalam oven’; dan sagu mutiara ‘penganan berbentuk bulat kecil, umumnya berwarna putih, merah, atau hijau, dibuat dari tepung sagu, biasanya digunakan sebagai bahan utama minuman atau bubur’.

Selanjutnya, dalam huruf t, ada tar ‘kue yang dibuat dari tepung terigu, gula, mentega, telur, dan sebagainya berbentuk bulat dengan ukuran besar’; tarcis ‘kue tar yang kecil’; tembosa ‘kue dari tepung berisi daging, udang kering, dan sebagainya’; tingting ‘(kue) tengteng’; dan tengteng ‘penganan dari kacang tanah, wijen, dan sebagainya yang diaduk dan dimasak dengan gula, dikeringkan, kemudian dipotong-potong; ting-ting’. Dalam huruf w, ada wafel ‘kue dadar tebal, di bagian luarnya renyah, dipanggang di atas cetakan yang berlekuk’ dan wafer ‘kue renyah, berbentuk persegi panjang, berlapis dengan berbagai rasa’.

Kue-kue tersebut ada yang disimpan dalam stoples ‘tabung kaca atau plastik yang bertutup’ atau lodong ‘tempat kue terbuat dari gelas’. Sebagian lagi mungkin disajikan dalam kemasan lain yang dapat dinikmati kapan saja saat Lebaran. Meskipun tidak semuanya, beberapa kue disajikan untuk mendampingi kue-kue Lebaran yang berasal dari luar negeri tadi.

Kehadiran kue yang banyak ini tentu menjadi suatu kebahagiaan sendiri saat Lebaran. Saat bercerita dengan keluarga dan teman, kita dapat menikmati kue-kue yang memberikan cita rasa tersendiri. Bahkan, kue-kue ini juga menjadi bingkisan, parsel, atau hamper saat berkunjung ke rumah keluarga, teman, atau saudara. Dalam kue-kue yang dibawa tersebut, terdapat ungkapan syukur dan ucapan terima kasih atas persaudaran yang terjalin selama ini. Nah, dari sekian nama-nama kue yang dibahas kali ini, kue-kue apa yang akan menemani Lebaranmu?

*Tulisan ini sudah dimuat di Scientia.id. Silakan lihat juga melalui bit.ly/scientia-namakuelebaran.

*Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas