Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Hukum K-P-S-T dalam Penulisan Kata Bahasa Indonesia

Oleh Khofifah Aisah Amini, M.Hum.*

Foto: Ejaan.id

Masih banyak ditemukan kekeliruan dalam mempraktikkan kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia, baik penulisan kosakata, maupun tata bahasa.

Kekeliruan tersebut, salah satunya, dapat ditemukan di media, baik elektronik, maupun cetak. Contohnya, penulisan memperoleh dan memeroleh pada judul berita di bawah ini.

“Jangan Rampas Hak Anak Memperoleh Fondasi Pendidikan” (Kompas.com, 06 April 2023)

“Cara Memeroleh Bantuan PKH untuk Keluarga Miskin” (Kompas.com, 11 Februari 2023)

Manakah penulisan kata yang benar? Memperoleh atau memeroleh?

Fenomena tersebut berkaitan dengan hukum KPST dalam bahasa Indonesia. Apa itu hukum KPST? Istilah tersebut merujuk kepada terjadinya peluluhan fonem (huruf) pada penggabungan kata dasar yang berawalan k, p, s, dan t dengan imbuhan me(N)- dan pe(N)-.

Peluluhan fonem merupakan salah satu proses dalam morfofonemik. Morfofonemik adalah kajian yang di dalamnya terjadi perubahan fonem akibat proses morfologis (Chaer, 2012).

Untuk lebih jelasnya, berikut dibahas lebih lanjut mengenai aturan-aturan hukum KPST dalam penulisan kata bahasa Indonesia.

Aturan Pertama

Aturan pertama dalam hukum KPST adalah terjadinya peluluhan pada awalan huruf kata dasar k, p, s, dan t ketika bergabung dengan imbuhan me(N)-/pe(N)-. Lebih jelasnya, perhatikan kaidah serta contoh berikut ini.

me(N)-/pe(N)-  +  K  +  huruf vokal → meng-/peng-

me(N)-/pe(N)-  + P  +  huruf vokal → mem-/pem-

me(N)-/pe(N)-  + S  +  huruf vokal → meny-/peny-

me(N)-/pe(N)-  + T  +  huruf vokal → men-/pen-

Contoh:

me(N)-/pe(N)-  + kejar → mengejar/pengejar

me(N)-/pe(N)-  + pilih → memilih/pemilih

me(N)-/pe(N)-  + siram → menyiram/penyiram

me(N)-/pe(N)-  + tendang → menendang/penendang

Jadi, mana yang benar memperoleh atau memeroleh?  Mempengaruhi atau memengaruhi? Mengkondisikan atau mengondisikan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kuncinya ada pada kata dasar. Jadi, cari tahu terlebih dahulu bentuk kata dasarnya seperti apa. Hal itu karena peluluhan fonem pada hukum KPST hanya berlaku jika imbuhan me(N)-/pe(N)- yang bertemu dengan kata dasar berawalan huruf k, p, s, t diikuti oleh huruf vokal. Kalau tidak diikuti huruf vokal, tidak luluh.

Misalnya, untuk menentukan penulisan mempengaruhi atau memengaruhi, cek terlebih dahulu kata dasarnya di KBBI; pengaruh atau aruh? Ternyata, dasar dari kata tersebut adalah pengaruh. Berarti, imbuhan me(N)- bertemu huruf p dan diikuti vokal e mengakibatkan huruf p luluh sehingga penulisan yang tepat adalah memengaruhi, bukan mempengaruhi.

Begitu juga dalam menentukan kata yang tepat antara mengkondisikan atau mengondisikan. Bentuk dasar kata tersebut adalah kondisi. Oleh karena itu, huruf k pada kata tersebut mengalami peluluhan karena diikuti oleh vokal o sehingga kata yang benar adalah mengondisikan.

Bagaimana dengan kata memperoleh atau memeroleh? Dengan cara yang sama, tentukan terlebih dahulu kata dasarnya; peroleh atau oleh? Berdasarkan KBBI, dasar dari kata tersebut adalah oleh, bukan peroleh. Dengan demikian, kata yang tepat adalah memperoleh. Hal itu karena imbuhan yang melekat pada kata dasar adalah memper- (bukan me(N)-) sehingga tidak menyebabkan p luluh.

Jadi, sudah bisa diketahui, ya, mana penulisan yang benar pada judul berita di atas? Oke, sekarang kita membahas aturan kedua dalam hukum KPST.

Aturan Kedua

Sebelum membahas aturan kedua, coba tentukan manakah kata yang tepat antara pemproduksi atau pemroduksi; pemprogram atau pemrogram; dan pemprotes atau pemrotes?

Berdasarkan hukum KPST, kata yang benar adalah pemroduksi, pemrogram, dan pemrotes.

Hal itu sesuai dengan aturan kedua dalam hukum KPST; ketika imbuhan pe(N)- bergabung dengan kata dasar berawalan p dan diikuti konsonan r mengakibatkan peluluhan pada huruf p. Berikut kaidanya.

pe(N)-  +  P  + huruf konsonan (khususnya R) → pem-

Contoh:

pe(N)-  + produksi → pemroduksi

pe(N)-  + program → pemrogram

pe(N)-  + protes → pemrotes

pe(N)-  + propaganda → pemropaganda

pe(N)-  + prakarsa → pemrakarsa

pe(N)-  + prakiraan → pemrakiraan

Beberapa kata terdengar asing, bukan? Walaupun asing, memang begitulah penulisan yang benar karena disesuaikan dengan hukum KTSP. Dengan memahami hukum KTSP, diharapkan kita tidak salah lagi dalam penulisan kata, khususnya gabungan kata imbuhan me(N)-/pe(N)- dengan kata dasar berawalan k, p, s, dan t. Semoga penjelasan ini membantu, ya. Selamat beraktivitas!

*Redaktur Bahasa

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas