Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Dari Cikini ke Gondangdia

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum.*

Foto: Ria Febrina

Cikini ke Gondangdia

Kujadi begini gara-gara diaCikampek, TasikmalayaHatiku capek bila kau tak setia

 Jakarta ke Jayapura

Jangan cinta kalau cuma pura-puraMadura sampai PapuaJangan kau kira ku tak bisa mendua

Para netizen pasti tahu lagu yang baru populer akhir-akhir ini. Lagu ini populer setelah dipakai oleh seorang kreator konten di TikTok. Setelah lagu ini populer, kita pun menjadi penasaran. Siapakah yang menciptakan lagu ini? Kapan lagu ini diciptakan? Lagu ini menceritakan apa? Apakah tentang perjalanan karena banyak nama kota yang disebutkan?

Lagu Cikini Gondangdia merupakan salah satu lagu Indonesia yang diciptakan oleh Yogi RPH dan Jaya Shalwa, pecipta lagu dangdut di Indonesia. Lagu ini dirilis oleh penyanyi dangdut yang bernama Duo Anggrek pada 16 Juni 2015. Pada tahun 2023 (per Juni 2023), lagu ini viral di TikTok dengan jumlah orang yang menggunakan video tersebut sebanyak 1,8 juta. Di Youtube pun, lagu ini sudah disaksikan lebih dari 28 juta kali.

Satu hal yang menarik dari lagu ini adalah cara pencipta menciptakan lagu dengan menggunakan pola puisi lama. Lagu ini memiliki pola khas, yaitu setiap bait terdiri dari empat baris. Setiap akhir baris memiliki rima atau kesamaan bunyi. Ada bait yang memiliki rima aaaa, ada juga bait yang memiliki rima aabb. Kita bisa melihat rima aaaa pada akhir lirik berikut.

Cikini ke Gondangdia

Kujadi begini gara-gara diaCikampek, TasikmalayaHatiku capek bila kau tak setia

Ada akhiran kata yang sama-sama memiliki bunyi a, seperti Gondangdia, dia, Tasikmalaya, dan setia yang menunjukkan bahwa lagu ini memiliki rima aaaa. Sementara itu, pada bait lain, ada akhiran kata yang sama-sama mirip pada akhir kata dua baris awal dan berbeda dengan akhir kata pada dua baris akhir. Hal tersebut menyebabkan bait ini memiliki rima aabb. Kita bisa melihatnya pada kata ojek dan becek yang sama-sama memiliki akhir bunyi [ek] pada dua baris awal dan pada kata bajaj dan belai yang sama-sama memiliki akhir bunyi [ay] pada dua baris akhir. Kita bisa melihatnya pada lirik lagu berikut.

Walau kau hanya tukang ojek

Paten dan taat seperti hujan becekWalau kau hanya supir BajajHatiku senang tiap kali kau belai

Bagi pencipta lagu ini, rima menjadi strategi untuk memikat pendengar. Pendegar lagu akan mudah mengingat, menghafal, dan menyanyikan lagu ini kembali karena ada pola yang diciptakan lagu ini. Dengan didukung oleh musik yang menarik, lagu seperti ini akan cepat dikenal oleh masyarakat.

Namun, di samping rima tadi, ada lagi yang menarik dikaji dari segi kebahasaan. Ada nama-nama tempat yang dipakai dalam lirik lagu ini, seperti Cikini, Gondangdia, Cikampek, Tasikmalaya, Jakarta, Jayapura, Madura, dan Papua. Apakah penggunaan nama-nama tersebut menceritakan bahwa lagu ini mengenai perjalanan dari satu kota ke kota lain? Uniknya, ternyata tidak. Nama-nama kota dalam lagu ini hanya sebagai sampiran. Sampiran merupakan ‘paruh pertama pada pantun, yaitu baris kesatu dan kedua berupa kalimat yang biasanya hanya merupakan persediaan bunyi kata untuk disamakan dengan bunyi kata pada isi pantun’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, 2023).

Dalam pantun Indonesia, bagian sampiran tidak memiliki hubungan dengan bagian isi. Namun, dalam puisi lama, sampiran yang dipakai memiliki makna khusus yang berkenaan dengan peribahasa atau filosofi hidup masyarakat. Dalam lagu ini, sampiran dipakai untuk menciptakan lagu agar semakin menarik. Caranya dengan menggunakan nama-nama kota dan juga rima yang sesuai antara sampiran dan isi.

Setelah mendengar lagu ini, tentu kita semakin penasaran. Kota-kota apa yang dipakai dalam lagu ini? Untuk mengenal kota tersebut, menarik jika kita bahas asal-usul penamaannya. Dalam kajian bahasa, kita dapat menelusuri asal-usul nama kota tersebut melalui kajian toponimi. Toponimi berasal dari bahasa Yunani tópos yang bermakna ‘tempat’ dan ónoma yang bermakna nama. Dengan demikian, toponimi merupakan kajian mengenai nama-nama tempat.

Naftali Kadmon (2000) dalam “Toponymy: The Lore, Laws, and Language of Geographical Names” menjelaskan bahwa toponimi merupakan kajian kebahasaan yang membahas asal-usul penamaan tempat, wilayah, atau bagian lain dari permukaan bumi. Dalam penamaan tempat, kita bisa memanfaatkan alam (sungai, lautan, dan pegunungan) untuk menciptakan sebuah nama. O. M. Poenaru (2013) dalam “The Relationship between Toponymy and Linguistics” juga menjelaskan bahwa toponimi juga dapat menceritakan bagaimana cara hidup masyarakat pada masa lampau. Di Indonesia, kajian toponimi dapat mengungkapkan kebudayaan yang dimiliki masyarakat, seperti menggunakan sejarah, mitos, atau legenda suatu tempat; serta menginformasikan nama-nama orang yang menjadi tokoh atau pahlawan bangsa.

Nama-nama tempat yang dipakai dalam lagu ini bisa menjadi pengingat bagi kita bahwa ada sejarah atau asal-usul yang perlu diketahui kembali. Nama Cikini dan Cikampek dalam lagu ini misalnya, menjelaskan bahwa kedua tempat ini dahulu merupakan sebuah wilayah yang asri dan memiliki sungai yang jernih. Kata ci dalam lagu ini berasal dari bahasa Sunda yang bermakna ‘sungai’. Di Cikini ternyata dulunya pernah tumbuh buah kini atau sejenis buah mangga. Sementara itu, di Cikampek dulunya sekelompok masyarakat Sunda Modern memiliki keterampilan membuat kampek ‘tas anyaman atau wadah untuk menyimpan sirih/pinang’. Dalam perkembangannya, nama kampek dipakai untuk menjadi daerah penampungan aliran air dari Sungai Citarum.

Sementara itu, nama Gondangdia dan Tasikmalaya juga memiliki sejarah yang sama. Nama Gondangdia yang merupakan wilayah di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, berasal dari sejenis pohon beringin yang bernama gondang. Di wilayah ini pada masa dahulunya pernah tumbuh pohon gondang. Namun, ada juga yang  menyatakan bahwa Gondangdia berasal dari gondang yang merupakan nama binatang air sejenis keong. Pada masa dahulu, keong besar hidup berkelompok di daerah ini sehingga masyarakat memberi nama daerah ini dengan Gondangdia. Namun, apakah berasal dari nama pohon beringin atau nama binatang air, penamaan Gondangdia sama dengan penamaan Cikini dan Cikampek bahwa alam menjadi penanda daerah. Kehadiran sungai, pohon, dan binatang yang merupakan makhluk hidup menjadi penanda sebuah nama tempat.

Meskipun lingkungan fisik tidak menjadi penanda, Nama Tasikmalaya juga berasal dari peristiwa alam, yaitu meletusnya Gunung Galunggung pada tahun 1882. Letusan gunung menyebabkan wilayah ini berubah menjadi lautan pasir sebagaimana dinyatakan bahwa Tasikmalaya berasal dari keusik ngalayah yang  bermakna ‘banyak pasir di mana-mana’. Erupsi Gunung Galunggung pada masa itu membuat wilayah ini menjadi lautan pasir. Dengan demikian, melalui nama Cikini, Cikampek, Gondangdia, dan Tasikmalaya, kita bisa mengetahui bahwa nama daerah ini diambil dari kondisi alam dan proses yang terjadi di wilayah tersebut.

Selain kondisi alam dan lingkungan, penamaan di Indonesia juga tercipta berdasarkan peristiwa sejarah yang terjadi di suatu wilayah, seperti Jakarta dan Jayapura. Nama Jakarta diambil dari singkatan Jayakarta yang berasal dari jaya ‘kemenangan’ dan karta ‘dicapai’. Nama yang diambil dari bahasa Sanskerta ini diciptakan setelah Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada  22 Juni 1527. Nama Jayapura juga berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu jaya ‘kemenangan’ dan pura ‘kota’. Jayapura merupakan sebuah kota terletak di paling timur Indonesia yang didirikan oleh Kapten Infanteri F.J.P. Sachse pada 7 Maret 1910. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi di daerah ini hingga akhirnya Jayapura merdeka.

Selain karena alam dan sejarah, sebuah nama juga diciptakan berdasarkan cerita rakyat atau legenda setempat, yaitu Madura. Nama Madura diambil dari Maddhuna Saghâra yang bermakna ‘madunya laut’ berdasarkan kisah Raden Sagara yang menemukan madu di tanah lapang yang luas. Selain berdasarkan cerita rakyat, sebuah tempat juga dinamakan karena kondisi masyarakat, seperti kata Papua. Dalam catatan peneliti Balai Arkeologi PapuaHari Suroto, kata Papua berasal dari bahasa Melayu Lama, yaitu ‘papuwah’ yang berarti ‘rambut keriting’. Nama ini diambil dari kondisi fisik masyarakat di sana.

Ternyata nama-nama kota yang dipakai dalam lagu ini, seperti Cikini, Gondangdia, Cikampek, Tasikmalaya, Jakarta, Jayapura, Madura, dan Papua kembali mengingatkan kita bagaimana sebuah kehidupan bermula di suatu tempat. Dengan mengenal kembali, kita diharapkan bisa menghargai wilayah yang sudah memberikan kita sebuah kehidupan. Mari jaga lingkungan dan juga sejarah yang berada di balik namanya.


*Tulisan ini sudah dimuat di Scientia.id. Silakan lihat juga melalui https://bit.ly/scientia-DariCikiniKeGondangDia.

*Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas