Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Asal-usul Kata Sepuh

Oleh Nabila Hanifah Suci R*

Foto: Ejaan.id
“Puh, ajarin dong puh sepuh. Tingki wingki dipsi lala puh, sepuh.” Itu lah cuplikan narasi video TikTok @garrilla666 yang memviralkan kata “sepuh”. Sebenarnya apa, sih, arti kata sepuh?

Kata sepuh diartikan sebagai ‘seseorang yang sangat mahir dalam satu bidang’. Bila menurut KBBI Edisi V, kata “sepuh” berarti: 1) campuran bahan yang dipakai untuk menuakan warna emas; 2) sadur (emas, perak); 3) cara mengeraskan sabit, pisau, dsb. dengan membakar lalu mencelupkannya ke dalam air; 4) suatu bahan untuk mewarnai kue dan sebagainya (dalam bahasa Melayu Jakarta); dan 5) tua (dalam bahasa Jawa). Tentu berbeda dengan makna saat ini. Namun, makna ‘tua’ mirip dengan persepsi masyarakat.

Seseorang yang tertua dalam masyarakat atau orang yang dituakan, bahkan dijadikan pemimpin karena banyak pengalaman, biasa dipanggil dengan sebutan “sepuh”. Sebenarnya, makna tersebut adalah arti kata sesepuh, yakni kata turunan dari sepuh.  Bila ditelusuri, kata sepuh memang berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘tua’. Namun, apakah sejak dulu bermakna tua?

Dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Sutan Mohammad Zain, 1951), kata sepuh berarti ‘tua’. Lawan katanya adalah anom yang berarti ‘muda’, sedangkan dalam bahasa Sunda dipendekkan menjadi aom. Sayangnya makna ‘tua’ tidak lagi ditemukan pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (J.S. Poerwadarminta, 1954) dan Kamus Indonesia Ketjik (E. St. Harahap, 1954). Kata sepuh dalam kedua kamus tersebut diartikan 1) ‘campuran senyawa, tawas, dsb. untuk menuakan emas’ dan 2) ‘mengeraskan pisau dengan dibakar atau ditempa’. 

Makna tersebut sama dengan kata sapuh dalam bahasa Bali Kuno. Kata “sapuh”  bermakna ‘sepuh’, ‘sepuhan’ (Kamus Bahasa Bali Kuno – Indonesia, 1985). Ateher amunduti pirak sapuhan sapuh yang berarti ‘lalu membawa perak sepuhan’. Sapuh dapat diartikan sebagai cairan yang melapisi logam. Bahasa Bali Kuno tersebut dijumpai dari hasil penemuan sejumlah prasasti tua di Bali, yang diperkirakan sudah ada sejak 800-an tahun Saka. Namun, bahasa Bali saat ini justru membedakan kata sapuh dan sepuh, yakni ‘bersihkan’ dan ‘lapisi dengan lapisan logam’.

Laman Kissparry.com beropini bahwa arti tua pada kata sepuh adalah sebuah perumpamaan. Menyepuh warna emas yang pudar adalah seumpama fisik orang tua yang tidak sekuat atau seasli saat muda. Begitu juga kata “sepah” yang bersinonim dengan kata “sepuh”, memiliki perumpamaan bekas tebu (yang sudah dihisap). Orang tua yang belum bisa menjadi teladan dianggap nasibnya seperti sepah tebu. Namun, opini ini tidak bisa dijadikan pedoman sebagai asal mula makna ‘tua’ pada kata sepuh karena belum ada penelitian lebih lanjut. 

Arti kata ‘tua’ kemudian masuk ke dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi I (1988) sebagai makna kedua dari kata sepuh. Kata turunannya adalah kesepuhan dan sesepuh. Kesepuhan bermakna ‘golongan yang terdiri dari atas orang-orang lanjut usia yang sangat dihormati oleh warga desa yang berfungsi sebagai penasihat kepala desa’. Lalu, sesepuh berarti ‘orang yang tertua di masyarakat’ dan ‘orang yang dituakan atau dijadikan pemimpin karena banyak pengalaman di suatu organisasi, dsb.’

Ternyata, kata sepuh juga dituturkan dalam bahasa Sunda yang berarti ‘tua’. Namun, tuturan tersebut masuk ke tingkat bahasa hormat (https://id.m.wiktionary.org). Mikihiro Moriyama, Guru Besar Department of Asian Sudies Nanzan University, Jepang, dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke- 19 (2005) mengatakan bahwa orang-orang Sunda sangat terpengaruh oleh kebudayaan Jawa setelah ditaklukkan oleh kerajaan Mataram pada abad ke-17. Bahasa Jawa pun ikut terpengaruh ke masyarakat Sunda sehingga bahasa Sunda mengenal undak usuk, yaitu bahasa tinggi dan halus. Oleh sebab itu, kata sepuh bermakna sama dengan kolot, hanya saja berbeda tingkat bahasa.

Demikian ulasan kata sepuh dalam video TikTok @garrilla666. Semoga bermanfaat bagi Sobat sepuh Eja. 
*Redaktur Bahasa

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas