Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Penggunaan Kata Ganti -nya yang Tidak Tepat

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum.*

Ada sebuah kebiasaan bagi masyarakat Indonesia dalam berbicara maupun menulis, yaitu sering menggunakan kata ganti --nya. Kata ganti --nya merupakan kata ganti orang ketiga tunggal. Dalam bahasa Indonesia, kata ganti --nya digunakan untuk mengulang entitas (antecedent), misalnya Ciputra merupakan orang kaya di Indonesia, tetapi selalu mengenakan sepasang sepatu ke mana-mana. Sepatu yang selalu dikenakan nya itu bermerek new balance berwarna hitam.

Kata ganti --nya pada kalimat kedua merujuk pada orang ketiga yang disebutkan pada kalimat pertama, yaitu Ciputra. Untuk mengulang entitas yang sama, digunakan kata ganti --nya agar tidak terjadi pengulangan yang dapat menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif. Pada kalimat tersebut, fungsi kata ganti --nya memang digunakan untuk menggantikan orang ketiga yang sudah disebutkan pada bagian awal.

Namun, pada kondisi lain, masyarakat Indonesia sering menambahkan kata ganti --nya pada kata hubung. Ada bentuk karenanya, makanya, sehingganya, dan untuknya. Fungsi kata tersebut ditujukan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Hal tersebut tentu saja salah. Kata ganti --nya merupakan kata ganti orang ketiga dan tidak bisa ditambahkan pada kata hubung, tetapi seharusnya ditambahkan pada kata dasar, seperti uangnya, kisahnya, dan rumahnya; pada kata berimbuhan, seperti kekuatannya dan keramahannya; atau pada gabungan kata, seperti prinsip hidupnya.

Penambahan kata ganti --nya pada kata hubung menjadikan kata hubung tersebut menjadi salah. Hal ini bisa dilihat pada contoh kalimat (1) Nilai ulanganku jelek. Karenanya aku rajin belajar. Kata ganti --nya pada karenanya dimaksudkan oleh pembicara atau penulis untuk menjelaskan fungsi sebab-akibat. Oleh karena bentuk tersebut salah, kata hubung yang tepat digunakan ialah oleh karena itu. Jika kalimat (1) diperbaiki, akan menghasilkan kalimat (1a) Nilai ulanganku jelek. Oleh karena itu, aku rajin belajar.

Kata ganti --nya pada kalimat (1) tidak berfungsi menggantikan orang ketiga. Bahkan, bentuk yang muncul justru orang pertama yang dituliskan dengan frasa nilai ulanganku. Kata ganti --ku merupakan kata ganti yang digunakan untuk orang pertama tunggal. Dengan demikian, kata karenanya tidak cocok digunakan pada kalimat tersebut dan justru harus diganti dengan kata hubung oleh karena itu.

Bentuk karenanya, makanya, sehingganya, dan untuknya juga bukanlah bentuk yang benar dalam bahasa Indonesia. Bentuk kata hubung yang benar ialah karena, maka, sehingga, dan untuk. Artinya, tidak tepat kata hubung tersebut ditambah dengan kehadiran kata ganti --nya.

Hal-hal tersebut juga menyebabkan bentuk sapaan pada acara resmi menjadi salah. Kita seringkali mendengar kalimat berikut yang dibawakan pembawa acara, yaitu kalimat (2) Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih. Pada konteks peristiwa tutur tersebut, pembawa acara berhadapan langsung dengan peserta. Artinya, tuturan terjadi antara orang pertama dengan orang kedua. Tidak ada orang ketiga dalam acara tersebut. Dengan demikian, kata ganti yang seharusnya digunakan ialah kata ganti orang kedua, seperti Anda atau disapa dengan sapaan Bapak/Ibu sebagai bentuk hormat. Jika hal ini dilakukan oleh pembawa acara, kalimat (2) tadi seharusnya dilafalkan dengan kalimat (2a), yaitu Atas perhatian Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih atau kalimat (2b) Atas perhatian Anda, kami ucapkan terima kasih.

Penggunaan kata ganti yang salah ini kemudian juga berpengaruh pada penulisan surat di berbagai instansi resmi di Indonesia. Surat-surat yang ditulis oleh instansi resmi seharusnya mempedomani kaidah bahasa Indonesia karena dalam undang-undang sudah ditetapkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam surat-menyurat. Penggunaan bahasa Indonesia tentunya harus menjunjung tinggi kaidah bahasa Indonesia. Salah satu bentuk penghargaan itu diwujudkan dengan menulis surat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Bentuk kalimat yang tidak menjunjung kaidah bahasa Indonesia tampak pada kalimat penutup surat, yaitu kalimat (3) Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih. Padahal, pada awal surat dituliskan bahwa surat tersebut ditujukan kepada orang kedua yang diwujudkan dengan sapaan berupa Bapak/Ibu. Hal ini biasanya tampak pada kalimat pembuka surat, yaitu Kami mendoakan semoga Bapak/Ibu berada dalam keadaan sehat. Merujuk pada bentuk sapaan Bapak/Ibu tersebut, bentuk yang benar untuk menutup surat ialah kalimat (3a) Atas perhatian Bapak/Ibu, kami mengucapkan terima kasih. Namun, bentuk yang sering muncul pada surat resmi ialah kata ganti --nya yang tidak ada hubungan sama sekali dengan bentuk sapaan pada awal surat.

Hal ini menjadi pewarisan yang salah dalam surat-menyurat sehingga pada ujian akhir nasional bahasa Indonesia, ujian masuk perguruan tinggi, maupun tes CPNS, soal mengenai penggunaan kata ganti --nya yang tidak tepat ini selalu muncul. Kepedulian masyarakat yang rendah dalam menggunakan kaidah bahasa Indonesia menyebabkan surat-menyurat tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Pada kasus lain, banyak juga masyarakat Indonesia yang suka memisahkan kata ganti -nya dengan bentuk dasar, seperti rumah nya, buku nya, atau kata nya. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, sudah dijelaskan bahwa kata ganti -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahului. Bentuk yang benar ialah rumahnya, bukunya, atau katanya.

Selain itu, sejumlah masyarakat juga sering menggunakan kata ganti --nya berulang kali dalam satu kalimat. Hal ini dapat dilihat pada kalimat (2) Diambilnya bajunya di dalam kamarnya. Kata ganti --nya digunakan berulang kali dalam kalimat tersebut dan menunjukkan perbuatan sia-sia karena kata ganti --nya cukup ditulis satu kali untuk menunjukkan milik orang ketiga. Dengan menghapus dua kata ganti yang tidak penting, kalimat tersebut dapat menjadi kalimat (2a) Diambilnya baju di dalam kamar.

Penggunaan kata ganti --nya secara berlebihan ini seringkali ditemukan pada karya-karya kreatif, seperti cerita pendek atau novel. Seorang penulis kadang keasyikan menulis kisah yang dialami oleh tokoh sehingga abai memperhatikan bahasa Indonesia yang digunakan. Dalam kondisi ini, seorang editor seharusnya memberikan saran kepada penulis berupa kalimat efektif yang dapat menggantikan penggunaan kata ganti --nya yang berlebihan tersebut.

*Tulisan ini sudah dimuat di Scientia.id. Silakan lihat juga melalui https://scientia.id/2020/09/13/penggunaan-kata-ganti-nya-yang-tidak-tepat/ .

*Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Imbuhan Serapan Asing: --man, -wan, dan --wati

Artikel 05-06-2023 14:20 WIB

Selain membaca buku, membaca berita juga menjadi salah satu kebiasaan saya. Saya sering kali mengisi waktu luang dengan membaca berita. Selama beberapa hari ini, saya membaca berita di surat kabar daring. Saya sering menemukan kosakata yang berakhiran dengan “man, -wan, dan “wati....

Oleh Yori Leo Saputra - Pustakawan SMA Negeri 1 Ranah Pesisir


Istilah "Deskriptif" dan "Preskriptif" dalam Ilmu Bahasa

Artikel 31-05-2023 12:51 WIB

Mengapa kata X tidak ada dalam kamus, padahal sudah banyak dipakaiPara pengajar dan peneliti bahasa pasti pernah mendengar kalimat ini. Untuk menjawabnya, kita bisa pakai analogi munculnya sebuah penyakit. Seseorang bisa saja tiba-tiba terkena penyakit yang belum ada sebelumnya. Bahasa pun bisa...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kependekan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 30-05-2023 11:53 WIB

Sobat Eja pernah tidak mendengar kata gercep, KKN, dan FISIP Ketiga kata tersebut merupakan bentuk kependekan. Gercep merupakan kependekan dari gerak cepat, KKN merupakan kependekan dari Kuliah Kerja Nyata, dan FISIP merupakan kependekan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kependekan...

Oleh Husni Mardhyatur Rahmi, S.Hum. - Redaktur Bahasa


Bukan "Busway", tetapi Bus

Artikel 27-05-2023 13:08 WIB

Di Kota Jakarta, seringkali kita mendengar kata busway. Umumnya, kata busway merujuk pada moda angkutan umum, bus Transjakarta. Padahal kata busway bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti jalur bus™. Lalu, mengapa kata busway lebih melekat di benak masyarakat, ketimbang sebutan...

Oleh Nabilla Hanifah Suci R. - Redaktur Bahasa Ejaan.id


Sufiks Serapan dari Bahasa Arab

Artikel 25-05-2023 12:37 WIB

Sufiks merupakan salah satu jenis afiks dalam bahasa Indonesia. Jenis afiks ini memiliki tanda hubung di depannya. Secara bahasa, sufiks diartikan sebagai afiks yang ditambah pada bagian belakang pangkal (Kridalaksana, 2011: 230). Contoh sufiks, yaitu “an pada kata ajaran, -i...

Oleh Yori Leo Saputra - Pustakawan SMA Negeri 1 Ranah Pesisir