Kata Kita

Berita, Artikel, dan Opini tentang Ejaan. id dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Linguistik Forensik: Kajian Bahasa di Bidang Hukum

Oleh Nabila Hanifah Suci R*

Foto: ejaan.id
Kasus kopi Sianida Jessica Wongso kembali mencuat berkat viralnya film dokumenter Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso yang ditayangkan oleh Netflix sejak 28 September lalu. Ramai netizen memperbincangkan kembali kasus yang pernah menyita perhatian publik pada 2016 tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Jessica bersalah dan Jessica tidak bersalah. Pernyataan “Jessica tidak bersalah” muncul seiring dengan bukti wawancara lawas terhadap Ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin, yang mengatakan memiliki botol sianida. Lalu, diralat kembali bahwa botol yang dimaksud adalah botol parfum Hermes. Pernyataan verbal Edi tersebut sangat menarik perhatian untuk dibahas melalui linguistik forensik. 

Linguistik forensik adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji bahasa dalam ranah hukum. Istilah forensik ini sendiri berasal dari kata bahasa Latin forēns(is) yang berarti ‘berkaitan dengan forum atau publik’.  Selain itu, makna lain berupa ‘ilmu bedah yang berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang yang ada kaitannya dengan kehakiman dan peradilan’. Dapat dikatakan bahwa ilmu forensik mengkaji fakta medis pada masalah hukum. Lalu, bagaimana ilmu forensik dapat menjadi kajian bahasa dalam ranah hukum?

Peranan bahasa tak lepas dari komunikasi yang sering terjadi antarmanusia untuk mencapai keinginan mereka. Meski tak hanya komunikasi lisan, komunikasi nonverbal, seperti gerak tubuh, gaya bicara, mimik wajah, bahkan emotikon merupakan bagian dari komunikasi. Dalam hukum, tuturan seorang tersangka dapat dikaji gaya bahasanya. Dari gaya bahasa tersangka, dapat ditelaah apakah orang lain ikut terlibat dalam aksi kriminalnya atau tidak, dan lainnya.

Ingatkah Sobat tentang kasus penistaan agama oleh Ahok? Pada tahun 2016, pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, menyinggung agama Islam. Ia mengatakan seseorang yang menyampaikan untuk memilih pemimpin berdasarkan surah Al-Maidah ayat 51 adalah kebohongan belaka. Ahok pun terbukti bersalah dan dihukum dua tahun penjara. Belum lagi kasus komentar negatif netizen dapat dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik. Kasus-kasus hukum tersebut salah satu kajian linguistik forensik, bahkan seorang linguis forensik bisa menjadi saksi ahli saat persidangan.

Ilmu linguistik forensik adalah ilmu interdisipliner yang menggabungkan ilmu bahasa dengan bidang hukum dan peradilan. Istilah linguistik forensik pertama kali muncul pada tahun 1968 oleh profesor linguistik, Jan Svartvik. Svartvik mengkaji pernyataan-pernyataan Timothy John Evans, yang divonis mati oleh pengadilan Inggris atas tuduhan pembunuhan Beryl Susan Evans dan Geraldine Evans, istri dan putrinya sendiri yang berusia 14 bulan. Dalam buku The Evans Statements a Case for Forensik Linguistics (1968), Svartvik menggunakan analisis teks dalam mengungkapkan gaya bahasa yang digunakan Evans dan pernyataan-pernyataan Evans untuk meneliti keterikatan dan kesinambungan makna. Kemudian, ditemukannya fakta bahwa Evans diketahui seorang tuna aksara dan keterbelakangan mental sehingga pengakuan tertulis yang tadinya diduga karangan Evans, kemungkinan dibuat oleh lebih dari satu orang. Sayangnya, fakta tersebut baru terungkap setelah Evans dihukum mati (Panggabean, 2022:31). 

Linguistik forensik pun berkembang menjadi sebuah ilmu dengan memiliki ruang lingkup dan metode analisisnya. Adapun ruang lingkup linguistik forensik adalah (1) bahasa dari dokumen legal, (2) bahasa dari polisi dan penegak hukum, (3) wawancara dengan anak-anak dan saksi-saksi yang rentan dalam sistem hukum, (4) interaksi dalam ruang sidang, (5) bukti-bukti linguistik dan kesaksian ahli dalam persidangan, (6) kepengarangan dan plagiarisme, dan (7) fonetik forensik dan identifikasi penutur (Coulthard dan Johnson, 2007). Juga, linguistik forensik mengkaji bahasa yang digunakan di penjara, penerjemahan bahasa yang digunakan saat konteks peristiwa hukum, penyediaan bukti forensik linguistik berbasis pada kepakaran, dan penyediaan kepakaran linguistik dalam penyusunan dokumen legal serta upaya penyederhanaan bahasa hukum (Gibbons dalam Panggabean, 2022:32). Dapat disimpulkan tiga fokus utama kajian linguistik forensik, yaitu (1) bahasa sebagai produk hukum, (2) bahasa dalam proses peradilan, dan (3) bahasa sebagai alat bukti.

Pengkajian linguistik forensik dapat menggunakan metode kaji fonetik, analisis makna (semantik dan pragmatik), stilistika, analisis wacana (termasuk semiotika), dan dialektologi. Seorang linguis forensik akan menganalisis penggunaan bahasa dalam ranah hukum, menyelidiki penggunaan bahasa sebagai bukti dalam proses hukum, serta menelaah penggunaan bahasa para aparat penegak hukum dalam proses peradilan (Panggabean, 2022:31). Namun, hasil analisis dari linguis tidak menentukan keputusan bersalah atau tidak dalam proses peradilan karena hal tersebut hakimlah yang berhak memutuskan. Tugas linguis hanya sampai penentuan peran atau status keterlibatan setiap pihak pada satu kasus yang melibatkan penggunaan bahasa, yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangaan saat persidangan (Panggabean, 2022:32). 

Meski ilmu ini terbilang baru, sebuah asosiasi profesional para linguis forensik The International Association of Forensic Linguists telah terbentuk pada tahun 1993. Pada tahun berikutnya, 1994, International Journal of Speech, Languange, and Law terbentuk. Perkembangan linguistik forensik di Indonesia sendiri belum maksimal, tetapi kalangan akademisi sudah banyak yang mengkaji kasus dengan pisau kaji linguistik forensik. 

Komunitas Linguistik Forensik Indonesia (KLFI) yang didirikan oleh Susanto, S.S., M.Hum., Ph.D. pada 2014, merupakan salah satu penanda perkembangan linguistik forensik di Indonesia. Komunitas ini merupakan wadah untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan terkait linguistik forensik di Indonesia.

Pengkajian linguistik forensik di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, mengingat ada bahasa nasional dan ratusan bahasa daerah. Banyak gaya bahasa, logat, dan kebudayaan di dalam bahasa-bahasa tersebut. Selain itu, aksi cyber crime semakin meningkat seperti pemalsuan suara menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan ujaran negatif di media sosial membuat lahan pengkajian linguistik forensik di Indonesia semakin luas. Subdisiplin ilmu ini akan berguna untuk mengidentifikasi keaslian barang bukti. Misalnya, dari aspek fonologi, bisa mengidentifikasi dan memverifikasi warna suara dan timbre seseorang, yang mana ciri vokal seseorang tentu berbeda dengan orang lain.

Sayangnya, pakar linguistik forensik belum menjadi profesi mandiri di Indonesia. Seorang lulusan ilmu bahasa dapat menjadi ahli linguistik forensik yang diakui di persidangan. Semoga ke depannya subdisiplin ini semakin dikenal luas dan memiliki peluang kerja tersendiri di dunia hukum ya, Sobat.
*Redaktur Bahasa

Kirim Komentar


Kata Kita lainnya

Kata "dalem" dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Artikel 25-04-2024 10:42 WIB

Selama berada di Yogyakarta, saya sering mendengar kata dalem. Kata ini sering diucapkan ketika seseorang yang saya ajak berkomunikasi belum memahami apa yang saya sampaikan. Kata dalem dipakai sebagai permintaan hormat untuk mengulang apa yang sudah disampaikan.Sebagai penutur...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Asal Usul Skena dan Musik Indie

Artikel 20-03-2024 12:12 WIB

Belakangan ini, kata skena terus digunakan oleh pengguna media sosial. Bahkan, kata skena sering dituturkan oleh para remaja kota. Contohnya, saya pernah ditanya oleh beberapa teman saya, Bil, apa itu arti skena.Saya baru pertama kali mendengar kata itu dan merasa tergelitik untuk mencari...

Oleh Nabilla Hanifah Suci Ramadhani - Redaktur Ejaan.id


Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Artikel 19-03-2024 16:43 WIB

Jika kita bertanya, kosakata apa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia Meskipun tidak ada yang tahu persis, kebanyakan orang akan menjawab bahasa Inggris. Sadar atau tidak, setiap hari kita pasti melafalkan kosakata bahasa Inggris. Setidaknya, kata handphone. Sangat ...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Penggunaan Ejaan van Ophuijsen pada Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Artikel 15-02-2024 10:26 WIB

Apa itu Ejaan van Ophuijsen Sebelum membicarakannya, mari kita bahas tentang ejaan. Chaer (2002) mengatakan, ejaan merupakan aturan cara penulisan kata, kalimat, dan tanda baca. Dalam KBBI Daring VI (2023), ejaan mencakup sejumlah kaidah tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf,...

Oleh Andina Meutia Hawa - Dosen Sastra Indonesia, Universitas Andalas


Kreator Konten: Istilah Baru, Profesi Baru

Artikel 24-01-2024 18:30 WIB

Sudah tidak asing lagi hari ini ada seseorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh publik di media sosial, misalnya Danang Giri Sadewa, alumni Fisipol UGM yang kemarin sempat viral karena mengenalkan sosok Abigail Geuneve Arista Manurung melalui konten bercyanda, bercyanda. Ternyata Danang...

Oleh Ria Febrina, S.S., M.Hum. - Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas